Hari ini kutaburi kata dalam benakmu
Sebuah ikrar, perjanjian atau hanya wujud ketakutan
Tentang kepalsuan, cinta, ketulusan, pengkhianatan
Sebab esok tak ada gambaran
Di mana kemarau membakar dimana hujan membasahi
Terlalu banyak alasan
Permainan kata yang menyesatkan
Tentang ketulusan, bukan berarti kesetiaan
Kesetiaan tak mesti untuk satu hati
Cinta bukan untuk tak mengkhianati
Ada permainan-permainan di mata
Yang tak bisa kupahami
…………………………
Dinda, esok kau akan mengerti
Apa yang tak bisa kukatakan kini
Selasa, 24 Juli 2007
Kamis, 19 Juli 2007
LOVINA II
Suatu hari kemudian
Di sini petaka mulai mendera
Lewat sebuah pertengkaran panjang
Yang kemudian berujung perpisahan
Kulukai wajah ranummu
Dengan tangan yang dulu membelaimu mesra
Kulantunkan sumpah serapah di telingamu
Dengan suara yang dulu membisikimu rayuan mesra
Kuhempas tubuhmu yang lemah
Yang dulu kurangkul mesra
Kukoyak hatimu yang luka, pedih, perih
Yang dulu kutaburi bunga bunga cinta
Laut tak lagi gemuruh
Pasir tak lagi terkoyak
Tanpa rembulan gemintang
Perahu tenggelam dalam duka
Tak ada tarian malam ini
Permadani kita terbakar luka
Bertabur air mata
Dari hamparan pasir anak kita berteriak
Papa, jangan sakiti mama !
Di sini petaka mulai mendera
Lewat sebuah pertengkaran panjang
Yang kemudian berujung perpisahan
Kulukai wajah ranummu
Dengan tangan yang dulu membelaimu mesra
Kulantunkan sumpah serapah di telingamu
Dengan suara yang dulu membisikimu rayuan mesra
Kuhempas tubuhmu yang lemah
Yang dulu kurangkul mesra
Kukoyak hatimu yang luka, pedih, perih
Yang dulu kutaburi bunga bunga cinta
Laut tak lagi gemuruh
Pasir tak lagi terkoyak
Tanpa rembulan gemintang
Perahu tenggelam dalam duka
Tak ada tarian malam ini
Permadani kita terbakar luka
Bertabur air mata
Dari hamparan pasir anak kita berteriak
Papa, jangan sakiti mama !
LOVINA I
Di sini dulu kau mendekapku erat
Mencium pipi dan memelukku mesra
Kemudian kau ucapkan kata
Berartinya aku bagimu
Lalu kurangkul kau ke bibir pantai
Pada sebuah perahu kecil
Aku berhenti...
Ingin kubunuh kau dengan cintaku
Tapi kuurungkan niatku
Malu paada rembulan dan gemintang
Kemudian kita terguling dalam permadani cinta
Hamparan pasir pasir pantai
Kucumbui sepenuh hati
Dalam gemuruh laut
Dalam derak pasir yang terkoyak
Rembulan gemintang menutup wajah
Perahu nelayan menari dalam gelombang
Mengikuti alunan birahi
Ah,....
Ada surga malam ini di sini
Dari hamparan pasir anak kita berbisik
Papa, mama ..........!
Mencium pipi dan memelukku mesra
Kemudian kau ucapkan kata
Berartinya aku bagimu
Lalu kurangkul kau ke bibir pantai
Pada sebuah perahu kecil
Aku berhenti...
Ingin kubunuh kau dengan cintaku
Tapi kuurungkan niatku
Malu paada rembulan dan gemintang
Kemudian kita terguling dalam permadani cinta
Hamparan pasir pasir pantai
Kucumbui sepenuh hati
Dalam gemuruh laut
Dalam derak pasir yang terkoyak
Rembulan gemintang menutup wajah
Perahu nelayan menari dalam gelombang
Mengikuti alunan birahi
Ah,....
Ada surga malam ini di sini
Dari hamparan pasir anak kita berbisik
Papa, mama ..........!
UNTUK KEKASIH
Bila esok kau disambut pagi
Kurelakan lentera ini kau tiup mati
Bila esok kau dibasuh hujan
Lupakan saja tetes embun ini
Bila hatimu letih kini
Bersandarlah dalam cintaku
Bila tubuhmu lelah kini
Lelaplah dalam dekapanku
Sebab esok kau harus tetap melangkah.....
Kurelakan lentera ini kau tiup mati
Bila esok kau dibasuh hujan
Lupakan saja tetes embun ini
Bila hatimu letih kini
Bersandarlah dalam cintaku
Bila tubuhmu lelah kini
Lelaplah dalam dekapanku
Sebab esok kau harus tetap melangkah.....
Langganan:
Postingan (Atom)